Selasa, 15 Desember 2009

Agar Rizki Mendapat Keberkahan


Oleh
Ustadz Muhammad Arifin Badri

AMAL SHALIH MEMBANTU MENDATANGKAN KEBERKAHAN

Keberkahan bisa diraih berkat beberapa amal shalih yang nyata telah kita lakukan. Misalnya sebagai berikut.

Pertama : Mensyukuri Segala Nikmat

Tiada kenikmatan, apapun wujudnya yang dirasakan menusia, melainkan datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas dasar itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan manusia untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Dengan cara senantiasa mengingat bahwasanya kenikmatan tersebut datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, diteruskan mengucapkan hamdalah, dan selanjutnya menafkahkan sebagai kekayaannya di jalan-jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yang telah mendapatkan taufik untuk bersyukur, ia akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya, sehingga Allah akan senantiasa melipatgandakan kenikmatan baginya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” [Ibrahim : 7]

Pada ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri” [An-Naml : 40]

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :”Manfaat bersyukur tidak akan dirasakan, kecuali oleh pelakunya sendiri. Dengan itu, ia berhak mendapatkan kesempurnaan dari nikmat yang telah ia dapatkan, dan nikmat tersebut akan kekal dan bertambah. Sebagaimana syukur, juga berfungsi untuk mengikat kenikmatan yang telah didapat serta menggapai kenikmatan yang belum dicapai” [8]


Sebagai contoh nyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan) : “Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugrahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsel (cemara) dan pohon bidara” [Saba : 15-16]

Tatkala bangsa Saba’ masih dalam keadaan makmur dan tenteram, Allah subhanahu wa Ta’ala hanya memerintahkan kepada mereka agar bersyukur. Ini menunjukkan, dengan bersyukur, mereka dapat menjaga kenikmatan dari bencana, dan mendatangkan kenikmatan lain yang belum pernah mereka dapatkan.

Kedua : Membayar Zakat (Sedekah)

Zakat, baik zakat wajib maupun sunnah (sedekah), merupakan salah satu amalan yang menjadi faktor yang dapat menyebabkan turunnya keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” [Al-Baqarah : 276]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berkata (berdo’a) : “Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang berinfak”, sedangkan yang lain berdo’a :”Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran” [Muttafaqun alaih]

Ketiga : Bekerja Mencari Rizki Dengan Hati Qona’ah, Tidak Dipenuhi Ambisi dan Tidak Serakah

Sifat qona’ah dan lapang dada dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan kekayaan yang tidak ada bandingannya. Dengan jiwa yang dipenuhi dengan qona’ah, dan keridhaan dengan segala rizki yang Allah turunkan untuknya, maka keberkahan akan datang kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridha dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yang tidak ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tidak akan diberkahi” [HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani]

Al-Munawi rahimahullah menyebutkan : “Penyakit ini (yaitu tidak puas dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya, pent) banyak dijumpai pada pemuja dunia. Hingga engkau temui salah seorang dari mereka meremehkan rizki yang telah dikaruniakan untuknya ; merasa hartanya sedikit, buruk, serta terpana dengan rizki orang lain dan menganggapnya lebih bagus dan banyak. Oleh karena itu, ia akan senantiasa membanting tulang untuk menambah hartanya , sampai umurnya habis, kekuatannya sirna ; dan ia pun menjadi tua renta (pikun) akibat dari ambisi yang digapainya dan rasa letih. Dengan itu, ia telah menyiksa tubuhnya, menghitamkan lembaran amalannya dengan berbagai dosa yang ia lakukan demi mendapatkan harta kekayaan. Padahal, ia tidak akan memperoleh selain apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan untuknya. Pada akhir hayatnya, ia meninggal dunia dalam keadaan pailit. Dia tidak mensyukuri yang telah ia peroleh, dan ia juga tidak berhasil menggapai apa yang ia inginkan” [9]

Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjaga kehormatan agama dan diri dalam setiap usaha yang ditempuhnya guna mencari rizki. Sehingga, seorang muslim tidak akan menempuh, melainkan jalan-jalan yang telah dihalalkan dan dengan telah menjaga kehormatan dirinya.

Keempat : Bertaubat Dari Segala Perbuatan Dosa

Sebagaimana perbuatan dosa menjadi salah satu penyebab terhalangnya rizki dari pelakunya, maka sebaliknya, taubat dan istighfar merupakan salah satu faktor yang dapat mendatangkan rizki dan keberkahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Nabi Hud Alaihissallam bersama kaumnya.

“Dan (Hud berkata) : Hai kaumku, beristighfarlah kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan atasmu hujan yang sangat deras, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuta dosa” [Hud : 52]

Akibat kekufuran dan perbuatan dosa kaum ‘Ad –berdasarkan keterangan para ulama tafsir- mereka ditimpa kekeringan dan kemandulan, sehingga tidak seorang wanita pun yang bisa melahirkan anak. Keadaan ini berlangsung selama beberapa tahun lamanya. Oleh karena itu, Nabi Hud Alaihissallam memerintahkan mereka untuk bertaubat dan beristighfar. Sebab, dengan taubat dan istighfar itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan hujan, dan mengaruniai mereka anak keturunan. [10]

Kelima : Menyambung Tali Silaturahmi

Di antara amal shalih yang akan mendatangkan keberkahan dalam hidup, yaitu menyambung tali silaturrahim. Ini merupakan upaya menjalin hubungan baik dengan setiap orang yang akan terkait hubungan nasab dengan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan (atau diberkahi) rizkinya, atau ditunda (dipanjangkan) umurnya, maka hendaknya ia bersilaturrahim” [Muttafaqun ‘alaih]

Yang dimaksud dengan ditunda ajalnya, ialah umurnya diberkahi, diberi taufiq untuk beramal shalih, mengisi waktunya dengan berbagai amalan yang berguna bagi kehidupannya di akhirat, dan ia terjaga dari menyia-nyiakan waktunya dalam hal yang tidak berguna. Atau menjadikan nama harumnya senantiasa dikenang orang. Atau benar-benar umurnya ditambah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. [11]

Keenam : Mencari Rizki Dari Jalan Yang Halal.

Merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya keberkahan harta, ialah memperolehnya dengan jalan yang halal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Janganlah kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesunguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram” [HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibbanm dan Al-Hakim]

Salah satu yang mempengaruhi keberkahan ini ialah praktek riba. Perbuatan riba termasuk faktor yang dapat menghapus keberkahan.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” [Al-Baqarah : 276]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :”Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia akan memusnahkan riba. Maksudnya, bisa saja memusnahkannya secara keseluruhan dari tangan pemiliknya, atau menghalangi pemiliknya dari keberkahan hartanya tersebut. Dengan demikian, pemilik riba tidak mendapatkan manfaat dari harta ribanya. Bahkan dengan harta tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membinasakannya dalam kehidupan dunia, dan kelak di hari akhirat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyiksanya akibat harta tersebut” [12]

Bila mengamati kehidupan orang-orang yang menjalankan praktek riba, niscaya kita dapatkan banyak bukti bagi kebenaran ayat dan hadits di atas. Betapa banyak pemakan riba yang hartanya berlimpah, hingga tak terhitung jumlahnya, akan tetapi tidak satu pun dari mereka yang merasakan keberkahan, ketentraman dan kebahagiaan dari harta haram tersebut.

Begitu pula dengan meminta-minta (mengemis) dalam mencari rizki, termasuk perbuatan yang diharamkan dan tidak mengandung keberkahan. Dalam salah satu hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sebagian dampak hilangnya keberkahan dari orang yang meminta-minta.

“Tidaklah seseorang terus-menerus meminta-minta kepada orang lain, hingga kelak akan datang pada hari Kiamat, dalam keadaan tidak ada secuil daging pun melekat di wajahnya” [Muttafaqun alaih]

Ketujuh : Bekerja Saat Waktu Pagi.

Di antara jalan untuk meraih keberkahan dari Allah, ialah menanamkan semangat untuk hidup sehat dan produktif, serta menyingkirkan sifat malas sejauh-jaunya. Caranya, senantiasa memanfaatkan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hal-hal yang berguna dan mendatangkan kemaslahatan bagi hidup kita.

Termasuk waktu yang paling baik untuk memulai bekerja dan mencari rizki, ialah waktu pagi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanjatkan do’a keberkahan.

“Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Hikmah dikhususkannya waktu pagi dengan doa keberkahan, lantaran waktu pagi merupakan waktu dimulainya berbagai aktifitas manusia. Saat itu pula, seseorang merasakan semangat usai beristirahat di malam hari. Oleh karenanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keberkahan pada waktu pagi ini agar seluruh umatnya memperoleh bagian dari doa tersebut.

Sebagai penerapan langsung dari doa ini, bila mengutus pasukan perang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya di pagi hari, sehingga pasukan diberkahi dan mendapatkan pertolongan serta kemenangan.

Contoh lain dari keberkahan waktu pagi, ialah sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Shakhr Al-Ghamidi Radhiyallahu ‘anhu. Yaitu perawi hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shakhr bekerja sebagai pedagang. Usai mendengarkan hadits ini, ia pun menerapkannya. Tidaklah ia mengirimkan barang dagangannya kecuali di pagi hari. Dan benarlah, keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat ia peroleh. Diriwayatkan, perniagaannya berhasil dan hartanya melimpah ruah. Dan berdasarkan hadits ini pula, sebagian ulama menyatakan, tidur pada pagi hari hukumnya makruh.

Masih banyak lagi amalan-amalan yang akan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan seorang muslim. Apa yang telah saya paparkan di atas hanyalah sebagai contoh

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq dan keberkahan-Nya kepada kita semua. Dan semoga pemaparan singkat ini dapat berguna bagi saya pribadi dan setiap orang yang mendengar atau membacanya. Tak lupa, bila pemaparan diatas ada kesalahan, maka hal itu datang dari saya dan dari setan, sehingga saya beristighfar kepada Allah. Dan bila ada kebenaran, maka itu semua atas taufik dan inayah-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
__________
Footnotes
[8]. Tafsir Al-qurthubi, 13/206
[9]. Faidhul Qadir, 2/236
[10]. Lihat Tafsir Ath-Thabari (15/359) dan Tafsir Al-Qurthubi (9/51)
[11]. Lihat Syarhu Shahih Muslim (8/350) dan Aunul Ma’bud (4/102)
[12]. Tafsir Ibnu Katsir, 1/328

Sumber :
http://www.almanhaj.or.id/content/2415/slash/0
16 April 2008

Sumber Gambar:
http://2.bp.blogspot.com/_CDu-IOSTQPw/Syg2iry15gI/AAAAAAAAALo/lSHBsA1o0fY/s1600-h/kerja.jpg

Rizki yang Halal: Sumber Kebahagian

Oleh : M. Dzaki Ismail, SHI

Rizki menurut kamus berasal dari kata Rozaqo yang berarti memberi. Jadi rizki dapat diartikan sebagai pemberian yaitu pemberian Allah SWT kepada hambanya untuk memenuhi kebutuhannya. Definisi halal adalah mubah atau boleh, jadi yang dimaksud dengan rizki yang halal adalah bagaimana kita mendapat apa yang kita makan,minum, pakai dan semua kebutuhan kita melalui jalan yang dibolehkan Allah dan diridhoinya. Ayat-ayat yang menyuruh kita mencari rizki yang halal antara lain:

1. Dalam surat Al-Baqoroh ayat 168 yang artinya:
“Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik apa yang terdapat dibumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagi kamu”.

2. Surat al-Maidah ayat 88 yang artinya:
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah Allah
rizkikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya.”

3. Surat Al-Baqoroh ayat 176 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman makanlah diantara rizki yang baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah”.

Rasulullah SAW besabda :
“Wahai sa’id jadikan makanan dan minuman mu yang baik lagi halal niscaya diterima permintaanmu”. (HR. Ibnu Mardawaih).

Mengapa kita disuruh mencari rizki yang halal? Supaya mendapat keberkahan dalam hidup kita. Sehingga apa yang kita makan, minum, pakai diberkahi Allah SWT. Kalau semuanya di berkahi maka kita akan mendapatkan kebahagiaan didunia dan diakhirat. Karena tujuan hidup seorang muslim tidak hanya bahagia didunia tetapi juga bahagia diakhirat. Inilah yang membedakan kita dengan umat yang lain.

Contoh rezki yang diberkahi adalah berapapun rezki yang kita terima banyak ataupun sedikit kita merasa puas dan bisa mensyukurinya. Maka dari sisi ini akan dilahirkan kebahagiaan hidup didunia dan di akhriat kelak.

Ada tiga bentuk keberkahan yang akan menyebabkan kebahagiaan:
1. Berkah dalam keturunan, yaitu dengan lahirnya generasi yang sholeh dan sholehah.

2. Keberkahan dalam soal makanan yaitu yang halal dan thoyyib. Makanan yang halal adalah halal jenisnya dan cara mendapatkannya. Makanan yang thoyyib adalah sehat dan bergizi, jadi bukan hanya sekedar mengenyangkan tapi juga menyehatkan.

3. Keberkahan dalam soal waktu yang cukup tersedia dan dimanfaatkan untuk kebaikan dan amal sholeh.

Kunci agar mendapatkan keberkahan dalam mendapatkan rezki adalah :
1. Iman dan takwa yang benar.
Kaitan dengan rezki adalah bahwa rezki masalah yang gaib untuk itu kita harus percaya bahwa Allahlah yang memberi rezki itu sesuai dengan usaha kita.

2. Berpedoman kepada Al-Quran.
Bahwasanya Al-Quran adalah suatu kitab yang mempunyai berkah yang telah diturunkan dan kita dilarang untuk mengingkarinya. Selain itu juga dalam mencari rezki juga harus sesuai dengan tuntunan rasulullah saw.

Dalam buku mafatihur Rizki fi Dhoui al-kitabi was Sunnah karangan Dr.Fadhlul Ilahi disebutkan bahwa ada sepuluh poin cara mendapatkan rezki yang di berkahi oleh Allah:

1. Istighfar dan taubat
2. Takwa
3. Tawakal kepada Allah
4. Menyendiri untuk beribadah kepada Allah
5. Haji dan Umrah
6. Silaturrahmi
7. Infak fi sabilillah
8. Infak kepada orang yang belajar ilmu agama
9. Berbuat baik / shodaqoh untuk fakir dan miskin
10. Hijrah kepada jalan Allah dengan niat lillahi ta’ala.

[milis Cahaya Hati]

artikel-artikel terkait

Sumber :
http://tausyiah275.blogsome.com/2007/02/02/rizki-yang-halal-sumber-kebahagian/
2 Februari 2007

Rizki Hanya Berasal Dari Allah Ar-Razzaq

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Hampir semua orang tahu bahwa rizki datangnya dari Allah Azza wa Jalla. Dialah yang memberikannya kepada makhluk, baik melalui langit maupun melalui bumi, darat maupun laut. Bahkan para dukun serta orang-orang kafirpun meyakini hal itu, kecuali orang-orang yang sengaja mendustakan.

Allah Azza wa Jalla berfirman menceritakan pengakuan orang-orang musyrik bahwa rizki datang dari Allah:

"Katakanlah (Hai Muhammad kepada orang-orang musyrik): "Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan" Maka mereka menjawab:"Allah". Maka katakanlah:"Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" [Yunus/10:31].

Syaikh Abdur Rahmân bin Nashir as-Sa’di rahimahullah, seorang ulama besar pada zamannya (wafat th. 1376 H) menjelaskan, bahwa rizki duniawi maupun rizki ukhrawi tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan taqdir dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena itulah Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas" [al-Baqarah/2:212]

Jadi, baik mukmin maupun kafir, mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan rizki duniawi serta kesenangan-kesenangan duniawi. Akan tetapi rizki yang bersifat hati; berupa ilmu, keimanan, rasa cinta kepada Allah, rasa takut dan harapan kepada Allah serta rizki-rizki lain yang bersifat hati, hanya dianugerahkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada orang-orang yang Dia cintai [1].

Dan salah satu di antara nama Allah yang sangat indah adalah ar-Razzâq. Dalilnya antara lain, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh" [adz-Dzariyat/51:58]

Semua ulama yang menghimpun nama-nama Allah dalam kitabnya, memasukkan nama ar-Razzâq dalam kitab-kitab mereka.[2]

Imam Ibnu Mandah rahimahullah (wafat th. 395 H) memuat nama ar-Razzâq dalam kitab beliau: Kitab at-Tauhid wa Ma’rifat Asmâ’i Allah Azza wa Jalla wa Sifatihi ’alâ al-Ittifâq wa at-Tafarrud[3]. Beliau membawakan dalil dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu yang mengatakan:

أَقْرَأَنِي رَسُوْلُ اللهِ (إِنِّى أَنَا الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ). رواه أبو داود والترمذي وغيرهما.

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan kepadaku (firman Allah Ta’ala, yang artinya): “Sesungguhnya Aku adalah ar-Razzâq (Maha Pemberi rizki), yang Maha Kuat lagi Maka Kokoh.” [HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dan lain-lain]

Imam at-Tirmidzi rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits Hasan Shahîh [4]. Syaikh al-Albâni rahimahullah juga mengatakan, hadits ini shahîh matannya.[5]

Imam Mubarakfûri, dalam kitabnya Tuhfah al-Ahwadziy bi Syarhi Jaami’ at-Tirmidzi[6] mengatakan: Ini adalah qira’ah (salah satu bacaan terhadap Al-Qur`ân dari) Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu. Sedangkan bacaan yang mutawatir adalah (yang terdapat dalam Mushaf, yaitu):

"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi sangat Kokoh" [adz-Dzariyât/51:58]

Dengan demikian, ar-Razzâq adalah salah satu di antara nama Allah Azza wa Jalla yang sangat indah. Dari nama ini dapat dimengerti bahwa Allah Azza wa Jalla Maha menganugerahkan rizki kepada setiap hamba-Nya, menurut kehendak-Nya.

RIZKI ATAS KEHENDAK ALLAH AZZA WA JALLA
Rizki Allah Subhanahu wa Ta'ala ada yang bersifat duniawi dan ada yang bersifat ukhrawi. Namun semuanya berdasarkan kehendak-Nya. Baik mukmin maupun kafir mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan rizki duniawi, bahkan binatang sekalipun. Bahkan terkadang orang kafir atau binatang justeru lebih banyak mendapatkan perolehan duniawi. Karena itu, jika seorang muslim hanya menitik beratkan usaha serta hidupnya untuk mendapatkan rizki duniawi serta perolehan dan sukses duniawi, maka apa bedanya ia dengan orang kafir dan binatang?

Mestinya, mencari rizki duniawi bagi seorang mukmin, tidak lepas dari konteks peribadatan kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga yang menjadi perhatian utamanya adalah mendapatkan rizki ukhrawi serta rizki-rizki yang dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan ukhrawi.

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) menjelaskan bahwa sikap hidup seorang mukmin berbeda dengan sikap hidup orang-orang kafir. Orang mukmin, meskipun mendapatkan perolehan dunia dan kesenangannya, namun tidak akan ia pergunakan untuk bersenang-senang semata, dan tidak akan ia pergunakan untuk menghilangkan kebaikan-kebaikannya selama hidup di dunia. Tetapi akan ia pergunakan perolehan dunia itu untuk memperkuat diri dalam mencari bekal di akhiratnya kelak.[7]

Di samping itu, hendaknya kaum Muslimin bersyukur kepada Allah terhadap segala rizki yang telah dianugerahkan-Nya. Antara lain dengan menginfakkan sebagian harta yang telah didapatnya itu kepada orang-orang yang membutuhkan. Baik infak yang berbentuk wajib, seperti zakat jika sudah mampu, nafkah kepada isteri, sanak famili dan budak serta hewan peliharaan. Maupun yang berbentuk sunat, yaitu infak tidak wajib yang diberikan di jalan-jalan kebaikan. Sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Abdur-Rahmân bin Nashir as-Sa’di rahimahullah dalam Kitab Tafsirnya, Taisîr al-Karîm ar-Rahmân.[8]

JENIS RIZKI YANG LEBIH PENTING
Kaum Muslimin juga hendaknya tidak terpaku pada rizki duniawi, sehingga ketika menghadapi terpaan-terpaan duniawi, seperti krisis melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok, kekurangan pangan dan krisis-krisis lain, tidak menjadi gundah dan gelisah. Karenanya tidak perlu melakukan hal-hal yang justeru sebenarnya merupakan penghamburan potensi dan pemubadziran energi sumber daya. Tetapi semua dikembalikan kepada taqdir Allah, kemudian melakukan-upaya-upaya positif yang dibenarkan syari’at; tidak merusak, dan tetap konsisten menjaga keutuhan persatuan,.serta selalu menghindari permusuhan serta saling balas membalas.

Rizki ukhrawi, rizki keimanan, ketaatan, rasa takut, cinta dan berpengharapan kepada Allah, justeru lebih penting dan harus diupayakan untuk mendapatkannya dengan sungguh-sungguh serta dengan selalu memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla. Sehingga kehidupan akan menjadi berkah. Bukankah rizki hanya berasal dari Allah Azza wa Jalla ?
Nas’alullah lana wa lakum at-Taufiq.

Rujukan:
1. Al-Jâmi’ ash-Shahîh wa Huwa Sunan at-Tirmidzi, Tahqîq: Kamal Yusuf al-Hût, Dâr al-Fikr.
2. Kitab at-Tauhid wa Ma’rifat Asmâ`i Allah Azza wa Jalla wa Sifatihi ’alâ al-Ittifâq wa at-Tafarrud, Tahqîq, Ta’liq dan Takhrij Ahaditsihi: Dr. Ali bin Muhammad bin Nashir al-Faqihi, Maktabah al-Ghuraba’ al-Atsariyah, al-Madinah al-Munawarah.
3. Miftah Dâr as Sa’adah, Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah, Taqdim, Ta’liq dan Takhrij: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, Muraja’ah: Syaikh Bakr bin 'Abdillah Abu Zaid rahimahullah, Dâr Ibni al-Qayyim, Riyadh dan Dâr Ibnu 'Affân, Cairo, Cet. I, Th. 1425 H/2004 M.
4. Mu’taqad Ahli as-Sunnah wal-Jama’ah fî Asmâ`i Allah al-Husnâ, Dr. Muhammad Khalifah at-Tamimi, Maktabah Adhwâ` as-Salaf, Riyadh.
5.Shahîh Sunan Abi Dawud, Syaikh al-Albâni, Maktabah al-Ma’ârif, Riyadh.
6. Shahîh Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albâni, Maktabah al-Ma’ârif, Riyadh.
7. Taisîr al-Karîm ar-Rahmân, Syaikh Abdur Rahmân bin Nashir as-Sa’di.
8. Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarhi Jâmi’ at-Tirmidzi, Imam Mubarakfû

Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Lihat Taisir al-Karîm ar-Rahmân Qs. al-Baqarah/2 ayat 212, penutup ayat.
[2]. Lihat Mu’taqad Ahli as-Sunnah wal Jama’ah fî Asmâ’i Allah al-Husnâ. Dr. Muhammad Khalifah at-Tamimi, Maktabah Adhwâ` as-Salaf, Riyadh, Cet. I, 1419 H/1999 M, hlm. 152-153.
[3]. Lihat kitab tersebut dengan Tahqîq, Ta’liq dan Takhrij Ahaditsihi: Dr. Ali bin Muhammad bin Nashir al-Faqihi, Maktabah al-Ghuraba’ al-Atsariyah, al-Madinah al-Munawarah, Cet. II, Th. 1414 H/1994 M, hlm. 291.
[4]. Lihat al-Jâmi’ ash-Shahîh wa Huwa Sunan at-Tirmidzi, Tahqiq: Kamal Yusuf al-Hût, Dâr al-Fikr (V/176), Kitâb al-Qirâ’ât ‘an Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bab 8 : Wamin Sûrah adz-Dzâriyât.
[5]. Lihat Shahîh Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albâni, Maktabah al-Ma’ârif, Riyadh, Cet. III, dari terbitan baru 1420 H/2000 M (III/173), dalam Kitab al-Qirâ’ât ‘an Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Bab 8 : Wamin Sûrah adz-Dzariyât. Lihat pula Shahîh Sunan Abi Dawud, Maktabah al-Ma’ârif, Riyadh, Cet. II dari terbitan baru th. 1421 H/2000 M (II/493 no. hadits 3993), Kitab al-Hurûf wa al-Qirâ’ât.
[6]. Lihat Kitab al-Qirâ’ât ‘an Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Bab 8 : Wamin Sûrah adz-Dzariyât, jilid VIII/220, no. Hadits 2940.
[7]. Lihat Miftah Dâr as-Sa’adah, karya Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah, Taqdim, Ta’liq dan Takhrij: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, Muraja’ah: Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid rahimahullah, Dâr Ibni al-Qayyim, Riyadh, dan Dâr Ibnu 'Affân – Cairo, cet. I – th 1425 H/2004 M - I/197, ketika membahas hal pertama dari dua hal yang menjadi penyakit generasi terdahulu dan generasi kemudian.
[8]. Lihat pada pembahasan penutup ayat ke 3 dari surat al-Baqarah.

Sumber :
http://www.almanhaj.or.id/content/2597/slash/0
14 Desember 2009

Sabtu, 16 Mei 2009

13 Kiat Meraih Berkah dalam Usaha


Oleh : Abdurrahman Yuri RG

Keberkahan adalah harga mutlak saat meniti dunia usaha. Apapun jenisnya, berkah atau tidak usaha tersebut, hendaknya menjadi goal yang diagungkan. Usaha yang dikerjakan, tidak hanya berputar masalah untung rugi dalam hitungan duniawi. Namun ia juga harus dibumbui oleh nilai-nilai ukhrawi, yaitu keberkahan. Karena berkah oriented adalah sebuah deklarasi seorang hamba yang mendambakan ketenangan dan ketentraman dalam hidup.

Sebagaimana sebuah hadist yang mengatakan, ”barang siapa yang memudahkan urusan seseorang, maka Allah swt akan memudahkan urusannya”. Hendaknya hadist tersebut menjadi tuntunan dalam menganyam usaha yang berkah. Usaha yang mendatangkan keselamatan dan rahmat dari Allah swt.

Lalu mengapa harus menempatkan keberkahan dalam berusaha, sebagai asas utamanya? Jawabnya karena dengan keberkahan, berbagai manfaat akan dapat kita tuai.

Diantaranya adalah hati yang tenang, nyaman dan kokoh dalam keyakinan kepada Allah. Selain itu, pertolongan Allah pun akan mudah mengalir dalalam setiap aspek kehidupan. Begitu juga dengan kemudahan dalam beribadah, akan menjadi salah satu manfaat dari usaha yang berkah. Ibadah yang dikerjakan, akan menjadi ringan, tanpa kesulitan yang berarti.

Manfaat yang lain, kerja yang dilakukan akan menjadi efektif dan efisien. Tidak ada yang terbuang percuma. Semuanya menjadi straight to the point, karena apa yang dilakukan, senantiasa dalam tuntunan Allah.

Dan yang paling penting, keselamatan dunia akhirat menjadi jaminan dan janji Allah akan setiap usaha yang dialiri oleh nilai-nilai keberkahan.

Jadi, mengapa masih meragukan pentingnya nilai keberkahan, bila begitu banyak manfaat yang dapat dituai?

Karenanya, dalam tulisan ini akan disampaikan 13 kiat bagaimana meraih keberkahan dalam usaha, yaitu:

Pertama, pengetahuan dan keterampilan.

”Apabila urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhari). Hadist ini menegaskan bahwa kunci dari usaha yang berkah adalah ilmu. Jadi, saat akan memilih seseorang, haruslah dilihat kredibilitasnya. Layak atau tidak ia ditempatkan dalam posisinya. Ini harus dicamkan sebaik mungkin. Sebab, banyak usaha yang bangkrut atau merugi, karena menyerahkan pengelolaannya pada orang yang tidak ahli.

Kedua, niat.

Apa yang membedakan antara sholat shubuh dengan sholat tahyatul masjid? Tentu saja pada niatnya, karena jumlah rakaat di kedua sholat tersebut, sama-sama dua rakaat. Begitu juga dalam melakoni dunia usaha. Jangan sampai niat dalam berusaha, tereduksi hanya sekedar mencari uang atau hal-hal yang berbau materi. Amatlah merugi! Sebab banyak orang yang amalnya lepas-lepas begitu saja karena tidak pakai niat. Hendaknya setiap usaha, dipayungi oleh niat untuk taat dan kenal kepada Allah. Yang akhirnya membawa pada semakin kuatnya keyakinan akan janji dan jaminan Allah

Ketiga, taqwa.

Dalam surah At Thalaq: 2-3, Allah berfirman, “ Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya (Allah) akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”. Itulah kekuatan dari takwa, dengan menyerahkan segala urusan pada Allah, maka Allah yang akan menyelesaikan urusan tersebut. Ikhtiar yang dilakukan, hendaknya dipahami sebagai bentuk usaha manusia, bukan sebuah kepastian terselesainya suatu urusan.

Keempat, kejujuran.

Rasullullah pada seribu empat ratus tahun yang lalu, telah dikenal dengan panggilan al-amin (yang dipercaya), atas kejujurannya. Ini menunjukkan keutamaan dari kejujuran dalam hidup. Begitu juga dalam dunia usaha. Jangan gadaikan hidup dengan ketidakjujuran. Orang yang tidak jujur akan ditinggalkan dan dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Dunia usaha yang dibangun atas dasar kepercayaan, akan membuat orang yang tidak jujur, tertolak keberadaannya. ”Sesungguhnya kebenaran membawa ketenangan dan kedustaan menimbulkan keraguan” (HR. Tirmidzi).

Kelima, tekun (istiqamah).

Ketekunan atau istiqamah mendatangkan karamah (kemuliaan). Dalam dunia usaha, hal ini juga berlaku. Tidak ada satu pun usaha akan berhasil, jika tidak ditekuni. Jadi kuncinya adalah tekun. Yang berarti fokus dalam mengelola usaha yang saat ini dilakukan. Karena dominan masalah dalam dunia usaha, adalah kurangnya ketekunan.

Keenam, tawakal.

Bila kita di dalam jurang, dan hanya ada seutas tali yang tergantung erat. Apa yang harus dilakukan? Tentu saja kita berpegangan kuat pada tali tersebut. Sebab kita tahu, tali itu lah yang akan menyelamatkan kita. Itu juga berlaku pada konsep tawakal. Dengan berserah diri hanya kepada Alllah, maka yakinlah bahwa Allah mengurus rejeki kita. Ini adalah aplikasi dari konsep tauhid. ”Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan keperluannya” (QS. Ath. Thalaq:3).

Ketujuh, bangkit lebih pagi.

Usahakan tidak tidur ba’da shubuh. Karena keberkahan dan rejeki ada saat selesai sholat shubuh hingga fajar menjelang. Perbanyak aktifitas atau sedekah. Kebiasaan ini tidak hanya membawa keberkahan atas usaha yang dilakukan pada siang harinya, tapi juga akan membuat kita siap menghadapi tantangan pada hari itu.

Kedelapan, dzikrullah.

Senantiasa melafazkan dzikir, akan mendatangkan banyak manfaat. Menghiasi hari dengan mengingat Allah, akan menjauhkan diri dari tipu daya setan. Ucapan dzikir seperti, ya Fattah, itu membuka urusan. Ya Rozak, itu yang membuka pintu rejeki. Bisa juga dengan istiqfar, yang banyak manfaatnya. Seperti diampuni dosa, diberikan ketentraman dan diberikan rejeki dari arah yang tidak di duga-duga.

Kesembilan, syukur.

”Jika kalian bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat itu kepada kalian dan jika kalian ingkar, maka siksa Ku amat keras” (QS. Ibrahim:7). Ini adalah janji dan jaminan Allah. Perilaku yang tidak hanya mengantarkan pada rahmat Allah, namun juga kasih-Nya.

Sepuluh, toleransi.

Bentuknya bermacam-macam. Diantaranya dengan mempermudah orang yang berhutang. Bila ia belum mampu melunasinya, dalam Islam diajarkan untuk menangguhkan waktu pelunasannya, kalau perlu di bantu, atau dikurangi. Bila memungkinkan, hutang tersebutkan dihalalkan. Jika ada hutang yang dihalalkan, lihat saja pertolongan Allah nanti seperti apa. ”Allah Mengasihi orang-orang yang longgar apabila menjual dan apabila membeli dan jika menagih hutang” (HR. Bukhari).

Sebelas, zakat dan infaq.

Jika ingin terbukanya pintu rejeki, harus membukakan pintu sedekahnya. Jangan khawatir akan kekurangan, karena tidak ada ceritanya, ada orang yang menjadi miskin karena mengeluarkan hartanya untuk zakat, infak atau pun sedekah.

Duabelas, qanaah.

”Bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya jiwa” (HR. Bukhari Muslim). Yakinilah ini dan jadikan sifat qanaah (merasa cukup) sebagai sikap hidup dalam melakoni dunia usaha. Dengan begitu, insya Allah keberkahan rejeki akan menghampiri.

Tigabelas, silaturrahmi.

Kadang kala kita berdoa minta rejeki, tapi kita sendiri yang menolaknya. Oleh Allah didatangkan rejeki lewat konsumen, namun tertolak karena perilaku kita. Karenanya jangan mengusir konsumen dengan perilaku negatif. Hormati dan perluas silaturrahmi. Itu dapat membuka jalan bagi datangnya rejeki.

Semoga dengan 13 kiat ini, keberkahan di dunia usaha akan terwujud. Sebagaimana ikrar bahwa hidup dan mati hanya untuk Allah, maka keberkahan adalah hasil nyata akan kebenaran dari ikrar tersebut. Ikrar yang menuju keselamatan dunia akhirat. (Abdurrahman Yuri RG, Pembina Yayasan Daarut Tauhiid).

Sumber :
http://www.dpu-online.com/index.php?artikel/detail/13/1537/artikel-1537.html
17 Mei 2009

Sumber Gambar :
http://media.photobucket.com/image/kerja%20keras/firaprasa/LuarBiasaBlogger.jpg

10 Amalan Agar Murah Rejeki


10 Amalan berikut akan membantu anda menjadi lebih banyak rejeki, bisnis lebih lancar dan hidup lebih berkah. Inilah 10 amalan yang perlu anda lakukan bila anda serius ingin memperlancar rejeki anda.

1. Bersedekah
Ini sesuai dengan janji Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 261: . “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

2. Istighfar
“…Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampung, niscaya Dia akan mengirimkan huja kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan ank-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai. (QS. Nuh, ayat 10-12)

3. Memiliki Sifat Taqwa
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS. At Thalaq, ayat 2)

4. Bertawakkal
Digambarkan dalam sebuah hadist: “Seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, pasti kamu diberi rezeki sebagaimana burung yang diberi rezeki, ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang petang hari dalam keadaan kenyang.” (Riwayat Imam Ahmad, At-Tarmizi, Ibnu majah, dll).

5. Menyempatkan Diri Untuk Beribadah.
Dari Abu Hurairah, bahwa Baginda Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah telah berfirman: Wahai anak Adam, sempatkanlah untuk menyembahku, maka Aku akan membuat hatimu kaya dan menutup kefakiran (kemiskinan)mu. Jika tidak melakukan maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu. (Riwayat imam Ahmad, At Tarmizi, dll).

6. Mengerjakan Haji dan Umrah
Rasulullah SAW. telah bersabda: “Ikut sertakanlah antara haji dan umroh. Sesungguhnya keduanya itu menghapuskan kefakiran (kemiskinan) dan dosa seperti dapur api menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji dan umrah melainkan syurga.” (Riwayat Imam Ahmad, at Tarmizi, An Nasai, Ibdu Khuzaimah, dll)

7. Berbuat Baik kepada Orang Lemah.
“Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah di antara kamu.” (Riwayat Bukhari).

8. Hijrah di Jalan Allah
“Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…” (QS. An Nisa, ayat 100).

9. Silaturrahim
“Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dilambatkan ajalnya, maka hendaklah dia menghubungi sanak saudaranya.” (Riwayat Bukhari)

10. Berdo’a
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, katanya: “Rasulullah SAW bersabda, siapa yang mempunyai keinginan lalu dia memintanya kepada manusia maka keinginannya itu tidak dimudahkan. Dan barangsiapa yang mempunyai keinginan dan memintanya kepada Allah maka Dia akan mendatangkan rejeki kepadanya atau panjang umur.”

Demikianlah sepuluh amalan pembuka pintu rejeki ini, Semoga kita dapat melaksanakanya dengan baik dan benar.

Sumber :
http://katalogmuslim.com/blog/akhlaq-islami/10-amalan-agar-murah-rejeki/
17 Mei 2009

Sumber Gambar :
http://gp-ansor.org/wp-content/uploads/2008/07/cover-buku-sedekah.jpg

Rejeki, Usaha dan Ikhtiar


Oleh : M. Eko Purwanto

Hampir dua minggu ini, HP Anto berdering nyaring. Sampai hapal di luar kepala, nomornya. Siapa lagi kalau bukan debt collector, yang setiap hari tanpa jemu, menagih tunggakan cicilan pinjamannya. Sudah dua bulan ini, Anto tidak menyisakan uang sepeserpun untuk memenuhi kewajiban, pada kartu kreditnya dan pinjamkan tanpa agunannya. Kapan pun dan dimanapun, Anto berada, debt collector tidak henti-hentinya menanyakan, “Kapan bapak bisa melunasi tagihan!”

Pengalaman Anto ini, menjadi cermin untuk kita renungkan bersama, bahwa dalam diri kita ada dua kehendak (keinginan), yang satu sama lain, saling bertolak belakang. Keinginan tersebut adalah keinginan menurut pikiran dan keinginan hati nurani (jiwa). Sementara, saya membatasi keinginan adalah sebagai suatu kecenderungan atau dorongan yang kuat atas apa yang akan kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan, baik secara lahir maupun batin.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan oleh beribu-ribu keinginan. Menurut para pakar psikologi, keinginan manusia berbanding lurus dengan proses berfikirnya. Dalam sehari semalam, selama 24 jam, manusia mampu menghimpun keinginannya antara 60 ribu sampai dengan 65 ribu keinginan. Betapa banyaknya keinginan manusia tersebut? Pantas saja, manusia tidak pernah puas atas apa yang diinginkannya, karena keinginannya selalu berubah setiap detiknya.

Apakah kita tidak boleh memiliki keinginan? Tentu saja boleh-boleh saja. Keberadaan pikiran manusia, adalah untuk mengumbar keinginan, apa saja, untuk kemajuan kehidupan manusia itu sendiri. Dan eksistensi pikiran manusia juga, berguna untuk memilah dan memilih, mana keinginan yang sesuai untuk dirinya, sesuai untuk potensinya, sesuai untuk kemampuan pikirannya. Makanya ada ungkapan, bahwa Allah Swt, akan memberi cobaan kepada manusia, sesuai dengan kemampuannya. Artinya, manusia akan mengalami berbagai macam cobaan sesuai dengan akal pikirannya.

Apapun yang dipikirkan manusia adalah bentuk asli keinginannya. Sebagai contoh, seseorang berpikir sedih dan penderitaan, maka ia sebenarnya menginginkan kesedihan dan penderitaan itu datang kepadanya. Orang berpikir bahagia, gembira dan menyenangkan, pada hakekatnya ia menginginkan kebahagiaan, kegembiraan dan kesenangan. Seseorang berpikir tentang uang yang setiap bulan kurang, maka iapun sedang menginginkan kekurangan uang pada dirinya, setiap bulan. Jika ia berpikir tentang keberlimpahan uang setiap hari, maka hakekatnya ia menginginkan keberlimpahan harta setiap harinya.

Ngomong-ngomong tentang rezeki, masih banyak sebagian kita menganggap bahwa rezeki, kadang datang ke dalam hidup kita, dan kadang-kadang menjauh dari hidup kita. Maka kemudian persepsi kitapun menyimpulkan bahwa sholat Dhuhalah yang mampu menghadirkan rezeki. Bahkan selesai sholat dhuha, kita dianjurkan untuk membaca do’a kepada Allah Swt., untuk menghadirkan rezeki. Dalam pemahaman yang awam, okelah kita bisa merutinkan sholat dhuha, namun perlu kita maknai bahwa rezeki bukan dari sholat dhuhanya, rezeki tetap berasal dari allah Swt. Apakah rezeki bisa digunakan sebagai alat, untuk sementara bolehlah, tetapi untuk selanjutnya kita perlu mengkaji apapun yang kita lakukan di dunia ini, asalkan tetap untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia, itupun juga alat untuk bisa menarik rezeki. Nah, kalau kita sudah paham sampai disini, pemahaman kita akan meningkat bahwa tidak ada hubungan langsung antara usaha dengan rezeki, kenapa begitu? Sampai disini, kalau sekiranya belum paham, mohon jangan dilanjutkan. Perlu ada referensi lain untuk melengkapinya agar tidak salah persepsi.

Banyak teman-teman langsung mendebat, ungkapan bahwa tidak ada hubungan langsung antara usaha atau ikhtiar dengan yang mana daripada rezeki. Mereka mengira usaha atau ikhtiar adalah awal dan akhir, dari kehadiran rezeki. Ketika mereka tidak sepaham dengan apa yang saya ucapkan, saya sangat’s kuatir akan muncul sikap menghakimi dan menilai salah-benar, sebelum argumen atau alasan rasional dimunculkan. Pada akhirnya, teman-teman yang sedikit bersabar untuk mendapatkan pemahaman, hanya manggut-manggut aja, tanpa komentar. Maklum saja, saya bukan ustadz atau kiayi, bahkan bukan pula akhli agama. Tapi, apa yang saya sampaikan ini cuma pengalaman hidup saya aja.

Sekedar berbagi pengetahuan, tidak kurang dan tidak lebih, bahwa untuk bisa paham atas usaha, ikhtiar dan rezeki, pertama-tama kita perlu memahami hakekat rezeki. Literatur keagamaan maupun pendapat para ahli agama Islam, menyebutkan bahwa Allah Swt. lah yang berkuasa atas rezeki manusia atau makhluknya. Jadi rezeki pada hakekatnya adalah berasal dari Allah, Tuhan kita. Rezeki bisa berwujud fisik (materi) dan bisa berwujud bukan materi. Sebagai contoh sederhana rezeki yang berwujud fisik, antara lain uang, mobil, rumah, tanah, kesehatan dan lain-lain. Kenapa kesehatan termasuk rezeki non fisik, karena sehat dan sakit itu ada dalam ranah jasmani alias fisik. Bahkan para ahli fisika kuantum mengungkapkan bahwa pikiran kita bersifat fisik (meski tidak bisa dilihat dengan kasat mata), karena pikiran masuk kategori energi (zat yang bergetar dan bergerak dari sebuah atom yang dikelilingi oleh proton, electron dan netron). Ketika kita berpikir, ada entitas (yang bersifat fisik) keluar dari sekujur tubuh kita, itulah energi. Semakin kita banyak berpikir, semakin berkurang energi dalam diri kita. Mekanisme kerjanya sama seperti Ha-Pe, ketika meng-SMS atau menelepon, ada energi yang keluar dari Ha-Pe kita itu. Bisa low bat, bo !. Bayangkan saja, jika proses berfikir ini dihubungkan dengan teori kekekalan energi (Newton) dan hukum tarik menarik energi (dimana pikiran positip akan menarik hal-hal yang bersifat positip. Dan sebaliknya, pikiran negatif akan menarik sesuatu yang negatip).

Sampai disini kira-kira pada ngerti nggak ya? Kalau belum, lanjutkan aja dulu membacanya. Jadi kita sedikit memahami, bahwa rezeki yang berwujud fisik begitu luas ruang lingkupnya, kata para ahli agama, seluas langit dan bumi, seluas alam semesta. Itu baru rezeki dalam bentuknya yang fisik. Sementara, pemahaman saya untuk rezeki yang non fisik antara lain hidup itu sendiri, kesempatan kita bisa mengalami kehidupan di muka bumi ini, adalah rezeki yang berwujud non fisik. Bener atau nggaknya, Tanya sama ahli tafsir agama. Para ahli sufi juga menegaskan bahwa rezeki, baik berwujud fisik maupun non fisik, ada pada hati nurani atau jiwa manusia. Bertawaqallah kepada Allah Swt, agar jiwa kita bersinar memancarkan rezeki dan nikmat yang tiada habis-habisnya.

Jadi jelas khan, pemahaman saya atas rezeki Allah Swt ? Nikmat Allah manalagi yang akan saya dustai? Kalau pemahaman saya tentang rezeki hanya melulu harta, tahta dan wanita (maklum saya laki-laki), alangkah sempit nikmat allah? Dari argumen di atas, saya bisa sedikit merangkum, bahwa rezeki adalah murni dari Allah Swt. Dan untuk mengenal Allah, maka kenalilah diri kita sendiri. Ketika kita mengenal Allah dalam diri kita yang paling dalam (hati nurani/jiwa), maka tidak ada yang mustahil bagi Allah, atas rezeki yang selalu eksis, bersama-sama diri kita, didalam diri kita semua. Sekali lagi, saya katakana, bahwa kita selalu hidup bersma rezeki yang sudah ada sejak kita lahir sampai hayat dikandung badan.

Jika kemudian muncul bertanyaan susulan, kalau memang benar rezeki itu sudah bersama-sama kita sejak lahir, kenapa ada yang kaya dan kenapa pula ada yang miskin? Menurut saya, pemahaman pertanyaan ini sangat’s lah dangkal. Karena rezeki manusia tidak hanya berupa fisik saja, tapi juga mencakup hal-hal yang bukan fisik (materi). Tapi kalau tokh kemudian kita menemukan ada orang yang pinter tapi miskin; ada orang bodoh tapi kaya; ada orang berpenghasilan pas-pasan, tapi punya isti lebih dari empat; ada seorang Ponari yang miskin dan belum selesai SD, dibutuhkan oleh ribuan orang; dan lain-lain.

Coba perhatikan atau teliti secara spiritual, bagaimana hubungan antara pikirannya dengan hati nurani (jiwa) nya ?. Pemahaman saya tentang fenomena-fenomena tersebut, mengatakan, bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah swt, ketika kita memahaminya dengan jiwa. Kalau saya memahaminya dengan pikiran rasional, pasti saya akan mengatakan itu semua bullshits, omong kosong, mustahil dan lain-lain. Pikiran saya mengatakan, mana ada orang pandai, miskin ?. Mana ada orang bodoh, bisa kaya? Mana ada orang semiskin Ponari, belum lulus SD lagi, bisa dibutuhkan orang se-Jawa Timur, gubernurnya aja kalah! Dan lain-lain.

Nah, sekarang coba kita analisa tentang usaha dan ikhtiar. Menurut pemahaman saya yang bukan ahli agama apalagi tahu tafsir Qur’an, bahwa usaha dan ikhtiar pada hakekatnya berbeda. Orang berusaha untuk hidupnya, berasal dari pikirannya yang rasional. Sementara, orang yang berikhtiar juga untuk hidupnya, berasal dari jiwa alias hati nuraninya. Berbedaan ini mengandung konsekuensi sunatullah, yaitu: Orang yang berusaha dengan pikirannya, kepentingannya adalah materi, pengen untung, pengen nggak rugi, pengen dipercaya, pengen dianggap sukses, pengen dihormati, pengen prestise dan lain-lain. Pikirannya mengatakan, bagaimana nanti aja ? pokonya, untung, nggak rugi, dipercaya orang, dianggap sukses, dihormati dan lain-lain.

Berbeda dengan orang yang berikhtiar. Tidak ada kepentingan yang bersifat fisik maupun non fisik, yang ada hanya tawaqal kepada Allah Swt, hidup dengan keberserahan diri kepada Allah Swt. Jiwa orang yang berikhtiar selalu berbisik, nanti bagaimana ?. Makanya bisikan ini menjadikan orang-orang yang berikhtiar selalu ikhlas terhadap apapun yang dilakukannya dan menyerahkan persoalan hidupnya kepada Allah swt. Jadi, coba kita bisa analisa fakta yang ada saja, bahwa ketika kita melihat orang berusaha (sebut saja berbisnis), ada yang untung dan ada yang bangkrut. Herannya lagi, orang yang bangkrut, justru modal usahanya milyaran, sementara orang yang untung, modalnya cuma jutaan rupiah saja. Mengapa hal ini terjadi, baca tulisan saya, Bisnis Identik dengan Keuntungan di KabarIndonesia!

Namun, bagi orang-orang yang ber-ikhtiar dengan tawaqal sebagai modal pokoknya, maka orang-orang ini tidak pernah dinyatakan bangkrut. Mengapa ? Ya, karena orang-orang yang berikhtiar tidak semata-mata mencari untung material atau non material, tidak takut rugi, tidak mencari prestise dan kehormatan lainnya, tidak kuatir dianggap bodoh, dan lain-lain. Orang-orang seperti ini akankah mengalami bangkrut ? Justru, jika kita memahami persoalan ini lebih dalam, maka apa yang sebenarnya diinginkan oleh setiap manusia di muka bumi ini, hanya akibat saja dari keberserahannya kepada yang Maha Sempurna, Allah Swt.

Lalu, apa dong, kesimpulan dari semua ini? Padahal awal tulisan ini mengisahkan kehidupan Anto, yang selalu ditagih hutang, sementara Anto sendiri nggak bisa melunasi hutangya? Jawabannya adalah dengan melahirkan pertanyaan lagi. Begini, siapa yang sedang bermain-main di dalam diri Anto, sekarang? Pikirannyakah atau Jiwanya? Lalu, siapa yang bertanggung jawab menyelesaikan masalahnya? Pikirannyakah atau Jiwanya? (Bekasi, 1 Maret 2009.Penulis adalah Staf Litbang YW Al Muhajirien Jakapermai, Bekasi)

Sumber :
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=19&jd=Rejeki,+Usaha+dan+Ikhtiar&dn=20090325232402
17 Mei 2009

Sumber Gambar:
http://ncc.blogsome.com/images/IbuibuPedagangPasarTerapung.jpg